Anxiety: Pertemuan

Pagi ini hampir saja ku lupa untuk menghadiri sebuah pertemuan. Waktu menunjukkan ku masih punya sisa waktu yang cukup agar ku tidak terlambat. Sejujurnya terdapat rasa keengganan yang cukup besar untuk menghadiri pertemuan ini. “Kalau saja ini bukan syarat ku untuk mencapai salah satu pencapaian terbesarku, ku akan berdiam di rumah saja hari ini”, pikirku dalam benak. Sudahlah, aku pun sudah berjanji untuk menjadi lebih kuat hari ini.

Jalanan pagi ini macet seperti biasa, dan aku tetap tenang dan tidak khawatir bila saja nanti terlambat. Bukan karena waktunya masih banyak, malah ku berharap ku terlambat saja. Berharap terlalu lama terlambat, lalu sengaja tidak masuk ke ruang pertemuan karena menghindari kegaduhan di ruang pertemuan. Rasanya ku menyetir sudah cukup lambat, dan sayangnya ku hanya terlambat 5 menit. “Oke, kamu berjanji akan menjadi lebih kuat”, benakku mencoba menguatkan.

Pertemuan berjalan seperti biasa, cukup membuatku mengantuk karena posisiku yang sedikit tersembunyi di sudut ruangan. Baiklah ku akan menulis saja, tapi mata ini malah menjadi semakin berat. Kalau begitu aku mau menggambar saja, sayangnya tiba-tiba kehilangan segala ide menggambar. “Oh tidak! kapan pertemuan ini berakhir?”, pikiranku sudah mulai gelisah.

Tik tok tik tok, rasanya waktu berjalan dengan sangat lambat. Pendingin ruangan cukup mendukung hawa-hawa untuk kembali terlelap.

“Hai, kamu gak mau pindah ke sini?”, sapamu sembari berbisik dari kejauhan.

“Aku?”, sambil menunjuk ke diri sendiri.

Sosok itu hanya mengangguk dan tersenyum. Ku pikir tidak ada yang menyadari hadirku di ruangan ini. Akhirnya ku berjalan dengan sedikit mengendap dan pindah tempat duduk, ku pikir mungkin jika ku pindah ku akan lebih berkonsentrasi dan setidaknya bisa berdiskusi mengenai pertemuan yang membosankan ini.

Rasanya lebih baik duduk di posisi yang lebih depan seperti ini. Pendingin ruangan terasa lebih dingin di sini. Cukup membuatku bergidik dan membuat sibuk menyembunyikan tangan di balik baju hangatku.

“Hai, kamu ingat semuanya kan?”, tiba-tiba saja ada yang berbisik menegurku dari belakang.

Apa? tidak mungkin! Ya aku baru saja pindah tempat duduk, tetapi aku tidak memperhatikan siapa saja yang duduk di dekat sini. Bodohnya aku. “Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia bisa ikut pertemuan ini?”, pikirku. Seketika aja ku jadi “teringat”. Ku palingkan pandanganku dari dirinya. “Bodoh! Kenapa ku bisa bertemu dengannya di sini?”. Aku harus fokus pada pertemuan ini. Ya, membosankan. Ya, sejujurnya pertemuan ini penting juga sih.

Pertemuan sudah memasuki 30 menit terakhir. Baiklah ku harus berkonsentrasi walau sisa waktu tinggal sedikit dan ada sedikit hal yang mengganggu. Ku berkedip, menarik napas, dan memejamkan mata lagi untuk sekitar 5 hitungan. “Oke, aku siap”, seakan mereset dan membuang segala kemalasan dan kebodohan yang baru saja terjadi.

Ku buka kembali mata dan bersiap untuk kembali fokus. Di depanku terdapat jendela. Jendela dengan satu buah tuas. Loh? Aku tidak tertidur. Hanya saja aku tetap saja duduk di sudut ruangan. Jendela itu berada tepat di sebelahku. Ya, aku dan dirinya telah membuat kesepakatan untuk tidak bertemu lagi di mimpi. Namun, dia bahkan sekarang menyapa ku di mimpi yang begitu nyata. Apakah aku baru saja bengong? Apa aku hanya mimpi di siang bolong? Tapi, tapi aku tidak tertidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s