Anxiety: Bandara

Esok akan menjadi hari yang melelahkan dan sangat padat. Sayangnya hari ini ku tidak bisa pulang lebih cepat. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 9 malam. “oh tidak ini sudah malam,” ku masih harus secepatnya tiba di bandara. Bandara tidak begitu jauh dari kampusku, tetapi akan lain cerita apabila malam ini adalah Jumat malam. Jalanan pasti sangat padat, tidak mungkin aku dapat sampai dalam waktu setengah jam.

“Mau kemana? Kok buru-buru banget?” tanya teman dekatku di lab.

“Gue buru-buru nih, harus ke bandara.. Selalu saja Bapake minta tolong cari journal pendukung mendadak dan malam ini tuh Jumat malam, yang benar saja?” ku angkat kedua alisku sambil menggeleng kepala.

“Oh ya hari ini ya? Ya udah yuk gue anter, kayanya program yang gue running juga gak akan beres nih malem ini.” Temanku ini kerja satu lab denganku, akhir-akhir ini dia rajin sekali lembur. Padahal selama ini dia gak pernah loh di lab sampai malam.

“Yakin mau anter? Macet loh ke arah bandara.” tanyaku untuk meyakinkan.

“Yakinlah. Justru dari pada lo sendirian di jalan kan lebih enak kalau ada temen ngobrol”

“Hmm oke boleh deh.” senyum lebar terpancar di wajahku. Sebetulnya ku bingung mengapa dia mau mengantarku, biasanya saja dia pulang sore dari lab.

Singkat cerita ternyata temanku ini baru saja putus dengan kekasihnya. Dia belum cerita kepada siapapun, sepanjang jalan ke bandara dia terus bercerita tentang kekasihnya ini. Ku pun baru tahu kalau dia melembur untuk berusaha melupakan kekasihnya itu dengan menyibukkan diri. Pantas saja, dia terlihat sangat sibuk di lab seharian ini.

Sesampainya di bandara waktu menunjukkan pukul 10:02 PM. Ku sudah terlambat, hatiku berdegup menjadi lebih cepat, dengan sedikit berlari kecil ku bergegas menuju pintu kedatangan. Benar saja di sana sudah ada wajah-wajah yang ku kenal berkumpul dan tentu saja wajah yang paling sangat ingin ku lihat. Ku mendekati kerumunan dengan perlahan agar tidak terlalu menarik perhatian. Tentu saja tidak semudah itu, ternyata wajah dia menemukan sosokku mendekat. Sontak saja dia memanggil namaku yang tidak lupa diakhiri senyum lebar dan kedua tangan yang membentang. Duh rasanya pipiku memanas, mungkin juga memerah apabila dilihat, seketika saja wajah-wajah lain yang ku kenal menoleh ke arahku.

“Maaf-maaf aku terlambat.” sembari cengegesan dan berusaha menutupi pipiku yang semakin memanas. Kerumunan menjadi heboh, ada yang menyiku dia, ada juga yang menyadiri pipiku memerah dan tak henti-hentinya menggodaku.

“Ciee berapa purnama bro?” tanya salah satu teman lelaki berkemeja biru sembari menyiku dia.

“Buset-buset itu pipi apa tomat Bu? Akhirnya ketemu juga lo berdua” sambung sahabat wanitaku yang tadi ku minta dia datang ke bandara terlebih dahulu.

“Pose apaan nih? Minta peluk? Nih peluk ini aja,” ku timpuk dadanya dengan map yang kubawa.

“Ini tuh pose hukuman buat kamu, siapa suruh terlambat? Tega ya kamu terlambat, kita kan udah ratusan purnama gak ketemu Cinta~” rayu dia yang kesal ku timpuk.

“Ahahah gombal.” gak pernah berubah, selalu saja ada bahan gombalannya. Akhirnya setelah selama ini ku menunggu, kami berdua pun bertemu. Semoga kami tidak akan dipisahkan lagi.

“Eh yuk ah pindah-pindah masa mau ngobrol di sini bro. Lu juga kan besok mesti temenin ortu lu kampanye”

 

Bersambung…..

Nantikan sambungannya di Anxiety: Kampanye

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s