Anxiety: Kampanye

Cerita kali ini masih lanjutan dari Anxiety Bandara

Pagi ini ku bangun dengan penuh semangat dan senyum yang mengembang. Ku masih tidak menyangka bahwa semalam ku bertemu dengan dia di bandara. Rasanya ku ingin loncat-loncat sembari berteriak riang. Hari ini ku sudah berjanji akan mendampingi dia untuk acara kampanye orang tuanya.

Ku bingung menggunakan baju apa, sebelumnya ku tidak pernah itu kampanye. Selain itu baju yang ku punya juga tidak ada yang sesuai dengan baju kampanye tim orang tua dia. Setelah ganti baju berjuta kali akhirnya aku menggunakan kemeja putih. Ku pilih kemeja putih agar terkesan netral, kebetulan juga tidak ada kandidat yang menggunakan warna putih untuk berkampanye. Tidak lupa ku menelpon dia untuk memastikan jika baju yang aku pakai tidak terlalu melenceng keluar jalur.

Ternyata tidak masalah baju yang ku kenakan untuk datang ke acara kampanye, tetapi dia memintaku membawa dress formal dan sepatu cantik yang sepadan. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang benar-benar panjang. Setelah ku bersiap dan sarapan pagi dia tiba untuk menjemputku di depan rumah. Akhirnya kami pun pergi ke tempat kampanye.

Tempat kampanye berada di luar ruangan dan matahari cukup terik siang ini. Sebelum acara dimulai kami pergi ke belakang podium kampanye sekedar untuk memberikan selamat dan semangat kepada Ayahnya. Acara pun dimulai, dia pergi mendampingi ayahnya di samping podium. Sedangkan aku pergi ke kerumunan masa, cukup sesak dan terik. Dari tengah kerumunan ku bisa melihat dia yang sedang menatap ayahnya. Ku tidak terbiasa dengan acara politik seperti ini, terlebih lagi siang ini cukup terik. Luar biasa masa kampanye yang setia berdiri dan berteriak untuk mendukung bakal calon. Ku putuskan untuk keluar dari kerumunan dan mencari tempat berteduh.

Acarapun selesai, dia menjemputku di tempat persembunyian.

“Ayo masih banyak yang bisa kita lakukan hari ini!” ajaknya sambil tersenyum.

“Oiya kita mau kemana sih? Kok aku diminta bawa baju dan sepatu segala?”, tanyaku penuh keheranan.

“Ada deh, kamu pasti suka. Kita ke rumah aku dulu ya. Kamu bau matahari”, ledeknya sambil menarik hidungnya seakan-akan ku sangat beraroma tak sedap.

“Idih, kamu kali bau keringet gitu udah kaya pemain basket” sindirku.

“Ya maklum kemarin aku masih tinggal di negara empat musim. Rasanya tinggal di sini panas banget” keluh dia yang sepertinya juga sedikit kelelahan kelamaan berdiri.

Sesampainya di rumah dia aku dipinjami kamar tamu untuk bersih-bersih. Setelah wangi dan berganti pakaian ada yang mengetuk dari luar pintu.

“Masih lama? ayok sebelum macet. Malem minggu nih”, teriak orang dibalik pintu.

“Iya udah kok, bentar-bentar”, sembari membereskan barang-barang.

“Yuk jalan. Kita mau kemana sih? Emang kamu gak cape apa baru kemarin sampe, hari ini udah ikut kampanye masih mau pergi aja?” tanyaku khawatir dia kelelahan.

“Udah ikut aja, tenang aja aku kan kuat. Lagian kita udh lama banget kan gak malem mingguan kaya gini” dia mencoba meyakinkan.

Aku hanya menganggut sembari tersenyum. Kami pergi, sepanjang jalan aku pun tak berusaha menanyakan kemana dia akan membawaku. Ku hanya menerka-nerka dari jalur yang kami lalui. Sepanjang perjalanan kami mengobrol cukup seru penuh canda tawa. Rasanya hari ini sangat indah, sudah lama kami tidak sedekat ini, biasanya kami hanya bertemu lewat layar. Perjalanan cukup lama, lalu lintas malam minggu yang selalu padat, semua mobil turun ke jalan. Setelah 90 menit perjalanan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Bangunan yang cukup megah, sepertinya hotel.

“Kita makan malam di sini ya”

“woah, kamu serius?”

“Wanita cantik ini udah pakai baju cantik dan sepatu cantik harus main ke tempat cantik juga” pujinya yang membuatku menyembunyikan rona di pipi.

“ckckck kok pulang-pulang makin sering gombal sih?”

Malam malah romantis setelah sekian lama, di tempat yang sanagt romantis bersama dia. Hidup ……..

Rasanya seperti mimpi, semuanya begitu indah. Ku terlelap dengan sumringah, tetapi rasanya sangat sulit untuk terlelap. Ku masih ingin terbangun, menikmati hari ini yang sangat begitu indah. Namun, lama kelamaan mataku rasanya semakin berat, suara di sekitarku pun semakin mengecil dan menjauh. Dalam tidurku ku bermimpi, ku meraba kasurku, ku mencari harndphoneku. Ku temukan dia ada di samping kakiku, ku tatap layarnya. Dengan mata yang masih setengah terbuka ku melihat jam di sana. Pukul 05.25 AM, sontak saja ku terbandung dari tidurku. Ini buka mimpi, ini kenyataan, oh tidak mimpiku terlalu indah.

Langsung ku terduduk di atas kasur, tiba-tiba saja kepala menjadi sangat berat. Pusing, sekeliling berputar, keringat dingin mengucur deras di leher dan punggungku. Kepalaku sangat sakit, kenapa aku bermimpi lagi tentangnya. Ku berusaha turun dari kasur untuk mencari segelas air. Namun, brugh aku terjatuh di lantai, pusing yang teramat sangat, sekeliling berputar. Terduduk ku sambil merintih dan memegangi kepalaku. “Kapan ini akan berakhir?” tanya ku sambil menahan rasa pusing.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s